Buat Skripsi vs Kerja, Dilema Mahasiswa Semester Akhir 

Sharing is caring!

Sebagai seorang mahasiswa tingkat akhir, Kita seringkali dibingungkan akan dua hal. Skripsi dan kerja. Dua hal tersebut memiliki peran yang penting dan tidak bisa dilewatkan secara sia-sia. Tidak heran jika hal tersebut menjadi dilema yang sulit untuk dipecahkan.

Skripsi dan juga kerja bukanlah hal yang mudah untuk disatukan. Dalam artian dikerjakan secara bersama-sama. Tapi juga bukan hal yang mudah untuk dipilih salah satunya.

Skripsi vs Kerja, Mana yang Lebih Penting?

Jika membicarakan mana yang lebih penting, keduanya sangatlah penting, tapi Kita perlu melihatnya dari sudut yang berbeda.

Skripsi sendiri merupakan tugas akhir yang sebenarnya tidak wajib untuk dikerjakan.

Mengapa bisa dibilang tidak wajib?

Pada awalnya, skripsi telah menjadi pilihan bagi mahasiswa apakah akan diambil atau tidak. Tapi sayangnya ada kebijakan dari beberapa perusahaan besar, termasuk BUMN, yang mewajibkan adanya skripsi untuk mengisi daftar transkrip mereka.

Jika tidak ada skripsi? Akan langsung di black list.

Nah perlu juga diketahui bahwasanya mengejar gelar itu bisa meningkatkan strata seseorang. Ketika stratanya naik, pekerjaan pun bisa dibilang akan lebih baik dari pada yang tidak memiliki gelar.

Meski hal ini bukanlah patokan pasti. Karena beberapa perusahaan hanya akan menawarkan pekerjaan kepada mereka yang memiliki title gelar di belakang namanya.

Baca juga : Tips Jitu Menang Capsa Banting Di Situs Agen Poker IDN

Lalu bagaimana dengan kerja?

Anggap saja begini, Anda memiliki kekayaan yang cukup meskipun masih kuliah. Apakah masih perlu untuk berkerja?

Berkeja bukanlah hanya perilah soal uang ataupun tamak. Tapi juga untuk melatih softsklill dari seseorang. Jangan salah, pengalaman seperti itu dibutuhkan untuk mengisi CV, lho!

Pernah lihat kan ada poster lowongan kerja di jalanan yang salah satu syaratnya mengatakan, maksimal 22 tahun dan berpengalaman setidaknya 2 tahun?

Syarat itu hanya sebagai contoh untuk memudahkan saja ya. Nah jika di logika, usia 22 tahun artinya seseorang baru saja menamatkan pendidikan sarjananya, masih bisa masuk ke syarat tersebut.

Tapi embel-embel ‘berpengalaman setidaknya 2 tahun’, bagaimana mungkin seseorang yang baru saja wisuda bisa langsung punya pengalaman 2 tahun berkerja?

Terdengar tidak logis bukan?

Hal yang perlu anda ketahui

Tapi hal tersebut bisa disiasati dengan pengalaman berkerja saat Anda masih berada di bangku kuliah. Itu malah akan menjadi nilai plus karena Anda bisa lulus tepat waktu sekaligus menjajal beberapa jenis pekerjaan selagi mengerjakan tugas kuliah dan skripsi.

Perlu dicatat, bahwa teori tanpa praktek itu sama saja bohong. Artinya jika Anda hanya terfokus pada teorinya saja tanpa mengetahui praktek yang ada dilapangan sama halnya dengan tidak kompeten. Meski gelar yang dimiliki S2 atau S3, jika tidak bisa praktek, ya bisa dibilang kurang kompeten.

Tambahan penting untuk bagian kerja, beberapa orang juga bisa sukses mengejar karirnya lebih dulu dibanding dengan gelar. Jadi tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan terjadi pada Anda juga.

Itu adalah beberapa contoh singkat mana yang lebih dipentingkan untuk skripsi dan kerja. Tapi kadang memilih bukanlah hal yang mudah, mengapa tidak keduanya?

Melakukan keduanya dalam satu waktu juga bisa menjadi pilihan untuk Mahasiswa semester akhir.

Kuncinya hanyalah manajemen waktu. Anda haruslah pintar membagi waktu kapan akan mengerjakan skripsi dan kapan akan berkerja.

Untuk pilihan pekerjaan yang bisa diambil sendiri ada bermacam-macam, tapi untuk lebih memudahkan Anda dalam membagi waktu, Kami menyarankan kerja part time atau freelance.

Sederhana saja, karena keduanya bisa bebas memilih jam kerja. Jadi tidak akan mengganggu skripsi yang sedang Anda selesaikan.

Tapi kembali lagi, semua keputusan yang dibuat 100% berada di tangan Anda. Apakah Anda akan melanjutkan skripsi atau memilih untuk mengejar karir terlebih dahulu? Atau mungkin Anda juga memilih untuk mengerjakan keduanya?